Kelulusan UN yang Luar (dari) biasanya

_Sejumlah propinsi yang selama ini dianggap tertinggal dari sisi tingkat kelulusan mencatat kelulusan yang tinggi. Papua misalnya untuk SMA naik dari 44,37 persen menjadi 85,54 persen. Di Bengkulu kenaikan signifikan tak hanya untuk SMA yang naik dari 49,36 persen menjadi 89,77 persen,tetapi juga pada MA yang naik dari 37,10 persen menjadi 77,50 persen, serta SMK dari 32,52 persen menjadi 71,04 persen_
(Kompas,Selasa 20 Juni 2006)

Luar biasa, adalah kata-kata headline yang terpampang di Koran Nasional itu, membuat hati ini bisa sedikit tersenyum melihat kemajuan yang cukup membanggakan terhadap pendidikan di Negara kita,bagaimana tidak, ditengah pro kontra layak tidaknya UN di jadikan acuan untuk menilai tingkat keberhasilan siswa dalam menerima setiap pelajaran yang telah mereka terima selama 3 tahun di bangku SMA,kita telah disuguhi oleh angka yang cukup hebat dibandingkan tahun lalu.

terlepas dari adanya anggapan miring mengenai adanya tim sukses dalam UN tahun ini,tapi hasil ini sudah cukup membuat sedikit banyak pihak untuk dapat berpuas diri,walaupun dari sepersekian ribu orang disana,masih akan terus berjuang untuk menuntut haknya untuk dpat diaui,hanya karena gagal dalam satu mata pelajaran.” sia-sia sudah 3 tahun,jika hanya ditentukan oleh 2 jam untuk mengerjakan soal itu)
memang cukup beralasan jika sang Wapres berkata, bahwa ia tidak setuju dengan adanya UN susulan,yang nantinya akan merugikan siswa itu sendiri,lewat adanya UN kita baru bener-bener merasa sekolah,tapi juga tidak adil jika kerja keras kita selama 3 tahun itu cuma diukur dari ujian yang 3x2jam.ini harus jadi pelajaran bagi bangsa ini,kita memang sudah jauh tertinggal dengan bangsa lain,tapi bukan berarti kita harus terus menerima keterpurukan ini.dalam setiap ujian itu harus ada yang lulus dan juga harus ada yang tidak lulus.tapi itulah,kadangkala kita seperti tidak menerima jika melihat seorang yang dalam kesehariannya dikategorikan seorang yang pintar disekolahnya,ternyata ketika pengumuman dinyatakan tidak lulus,ataupun sebaliknya seorang yang dikategorikan oleh gurunya(bahkan) akan sulit untuk melalui UN ini ternyata dinyatakan lulus.itulah sering saya komentari sebagai “HOKKY” sewaktu ujian.kita pasti sudah sama-sama tahu,faktor mental mempengaruhi ketika kita melaksanakan ujian.
setuju sekali jika saya berkesimpulan bahwa tahun ini Kelulusan UN yang Luar (dari) Biasanya.
setuju sekali jika tahun ini tidak diadakan UN susulan,permasalahan ada puluhan siswa yang tidak lulus adalah orang-orang pintar yang pernah meraih juara olimpiade fisika misalnya,itu hanyalah beberapa kasus dari sekitar 20% siswa dari seluruh Indonesia yang tidak lulus.tidak lulus UN bukan berarti perjuangan kita berhenti kan? inilah ujian sesungguhnya ketika kita mampu mengatasi ujian tersebut dengan lebih bijaksana.saya juga setuju sekali jika tahun depan tidak ada lagi yang namanya UN,tingkat kompetensi siswa itu harus diukur secara kontinyu bukan lewat test 3×2 jam,sudah saatnya pemerintah lewat Depdiknas memikirkan solusi yang baru,yang tidak membuat bingung guru dan siswa dengan perubahan-perubahan yang kadang-kadang tidak bisa diterapkan di seluruh daerah di Indonesia,karena harus kita akui,pendidikan di Inonesia belumlah merata.

cukuplah saat ini kita hanya bisa menjadi pemerhati pendidikan yang baik,cukuplah kita dengan memberikan apresiasi yang tak harus berlebihan,potret pendidikan kita memang sudah buram,tapi tak masalah,ucapan selamat saja untuk generasi putih abu-abu,selamat meninggalkan dunia abu-abumu.tataplah optimis hari depanmu.jadikan ungkapan rasa syukurmu tak hanya kau tuliskan dalam sms mu.

Message from : 0856649019**

Kakaaaak,,,,,,,,,,SMA5 lu2s
100%,,,,Snng nian kak,,

Sent:
19-June-2006
13:44:53

Message from : 0852674878**

,,,,
Woi sManli lu2s
100% n prngkt ke 1,
k 2ny br
smanda
,,,,

Sent :
19-Juni-2006
20:02:37

Nasionalisme: Sudahkah kamu?

………

Indonesia raya merdeka-merdeka
Tanahku negriku yang kucinta
Indonesia raya merdeka-merdeka
hiduplah Indonesia raya

“Rul,coba Pancasila hafal ga?” sebuah pertanyaan yang terdengar sedikit menggelitik,tak kala aku sendiri menuju kamar mandi,suatu pertanyaan yang membuat ku sedikit tertegun, kaget, dan cukup tak percaya, melihat mereka yang sedang bersimpuh di kursi yang melingkar sedang memperdebatkan hal yang sebenarnya jarang sekali untuk diperbincangkan,hafal kah kau dengan pancasila? Ya, pancasila yang memiliki 5 sila itu, apa yang telah kau perbuat sewaktu SD dulu,guru PMP (sebelum diganti dengan PPKn) pastilah mewajibkan kita untuk menghafalnya,apakah cukup dengan dihafal saja kelima sila itu.

tak kala kembali dari kamar mandi,lagi-lagi pertanyaan itu lagi yang kudengar,” ayo rul,di lafadzkan tu Pancasila”.hah!!! dalam hati ku bergumam “inikan pertanyaan yang selalu kusodorkan ketika masih SMA dulu kepada adik-adik kelasku yang sedang mengikuti Masa Orientasi Sekolah”….,”mau nguji gumamku”. Hei jangan-jangan kalian sendiri yang tidak bisa menyebutkan kelima sila dengan baik dan benar atau jangan-jangan diantara kalian masih ada yang tidak hafal Lagu Indonesia Raya, lagi-lagi pertanyaan yang dulu sering kulontarkan kukembalikan kepada mereka. Sungguh terkejut memang, ketika salah satu dari mereka tanpa basa-basi berucap” terus terang klo lagu Indosia Raya aku ga hafal” wah,,wah sampai sebegitunya “generasi” sekarang, apa yang kau kerjakan ketika upacara bendera selama 12 tahun setiap hari Senin itu,bait-demi bait lagu kebangsaan itu saja tak kau hafal.

“kau meninggalkan hal yang sepele kawan” kata teman yang disebelahnya , kata yang singkat tapi cukup bermakna, sesepelekah itu untuk menghafal Pancasila,sebegitu susahnya untuk menghafal dan menjiwai lagu Indonesia Raya. Coba kalau disodorkan dengan lirik lagu PeterPan ataupun Samsons,dengan lantang kan kau keluarkan suara merdumu itu.

Nasionalisme,jadi topik yang tidak pernah terbayangkan pada perbincangan ringan sore itu,aku yang sedari tadi hanya berkutat dengan keyboard dan sesekali memandang ke monitor itu,ikut terpancing untuk ikut dalam diskusi yang cukup membuat semangat,biasanya mereka hanya memperbinacangkan peluang Negara A melawan Negara B yang akan bertanding nati malam,ya ini musimnya pesta bola, tapi ini lain gumamku.semangat untuk menjadi pendengar yang baik ketika mereka berargumen mengenai apa yang telah mereka perbuat dimasa lalu itu,sampai-sampai Pancasila saja masih secara terbata-bata di ucapkan,atau dengan kening yang di kerutkan untuk mengingat setiap lirik dari setiap baris lagu kebangsaan kita itu.ha ha semuanya pu terdiam takkala ku potong pembicaraan mereka,ayo sapa yang mau jadi sukarelawan pertama untuk menyanyikan lagu kebangsaan yang dapat mebuat bulu kudukmu merinding ketika nantinya kau dengar berkumandang di pertandingan Piala Dunia,seperti mereka yang bertanding disana dengan bangga menaruh tangan kanannya untuk menyanyikan dengan bangga lagu kebangsaan mereka. ”Kulihat engkau diam,larut dalam hening” ya hening, sore itu,ketika kukembali ke kamarku, sambil kucari di file manager,search…….ah ku temukan juga,add file to winamp,kuputar volume ke tingkat yang kukira cukup membuat satu daerah itu mendengar,dan menyanyikan lagu ini denga jiwa Nasionalismenya. Ya lagu itu kuputarkan untuk mereka di sore yang teduh kala itu.

Nasionalisme: sudah kah kamu?

Indonesia, Tanah Air ku
Tanah tumpah darahku
Disanalah,aku berdiri
Jadi pandu ibu ku
Indonesia,kebangsaanku
Bangsa dan tanah airku
Marilah kita berseru
Indonesia bersatu

Hiduplah tanahku,
Hiduplah negriku
Bangsaku rakyatku semuanya

Bangunlah jiwanya
Bangunlah badannya
Untuk Indonesia raya

Indonesia raya merdeka-merdeka
Tanahku negriku yang kucinta
Indonesia raya merdeka-merdeka
hiduplah Indonesia raya

Indonesia raya merdeka-merdeka
Tanahku negriku yang kucinta
Indonesia raya merdeka-merdeka
hiduplah Indonesia raya

Jogja,sore di bulan Juni

Bukan de javu 6 Tahun Yang Lalu

inilah potret bumi yang telah mulai lelah,bergejolak,berguncang,untung tak sampai memuntahkan isinya lewat merapi.
tapi 57 detik itu sudah cukup meluluhlantakkan Jogja dalam sekejab,pecah jerit tangis pilu di pagi yang semula sunyi.
27 mei 2006 pukul 05:53
semua itu dimulai,mengingatkan kembali kisah masa lalu,ya 6 tahun yang lalu kini terulang lagi.
EARTHQUAKE sejenis monster apa dikau.

Photobucket - Video and Image Hosting

rata,sebuah ungkapandari hati yang teriris,tak mampu lagi mengeluarkan air mata

Photobucket - Video and Image Hosting

mau kemana lagi tempat berteduh itu telah hilang

Photobucket - Video and Image Hosting

oh…hanya piala-piala inikah yang bersisa.

ku tahu kau telah tua,tapi sebentar saja kau bergoyang habis lah sudah.

27 Mei 2006.

kualami lagi

seperti 4 juni 2000

ya 6 tahun yang lalu tlah lewat,tapi tetap membekas di ingatanku.

5,9 SR kala itu

05:30 27 mei 2006

hari ini mama ulang tahun ke-52,tak percuma ku pasang alarm untuk bisa membangunkan ku pagi ini agar bisa mengucapkan kata Selamat Ulang Tahun Mama

beberapa saat kucoba untuk menghubungi rumah,aneh….. biayasanya tidak sesulit ini untuk menelfon rumah…

05:50
handphone ku berbunyi, dari kakakku ternyata, Dek, hari ini mama ulang tahun,jangan lupa di sms ya,
ya ,ini aja baru mo ditelf.tapi belum bisa masuk-masuk”

tuut….tut…tut…
perasaan ku tidak enak….

05:53
terasa bumi bergetar,bergoyang,berguncang…
Benar saja dengan pelan tapi membuatku kembali teringat akan peristiwa 4 juli 6 tahun yang lalu,,,,,,
Ini GEMPA!!!!!!!!!!!!!!!!! Kataku
Berderak seluruh tembok dikostanku,ALLAHU AKBAR,
cepat,cepat sekali ku sudah berada diluar,satu persatu penghuni kostku berhamburan keluar,hanya satu dua orang saja yang terperangkap di kamar itu…..panik,,gumamku
Kembali de javu menghampiriku,dahsyat bumi kembali bergoyang,sekejap memang 57 detik itu sudah cukup mengembalikan rasa trauma 6 tahun lalu.
Beberapa saat bumi tenang,,,Merapi Meletus kukira….

06:00
Handphone ku kembali berdering,dari kakakku lagi ternyata Dek,gimana disana?
alhamdulillah aku gak papa. Perasaanku masih tak menentu.
kost kakak dek,hancur semua
berdesir seluruh tubuh ku,kusambar langsung kunci motor,tanpa pikir panjang.
rul mo kemana? Tanya teman kosku yang jelas terlihat gurat cemas.
Mo ke tempat kakakku,hancur katanya

06:05
hari ini sungguh tak terbayangkan bagi ku,sekejap itu meluluh lantakkan Jogja,kanan kiri kulihat reruntuhan itu,wajah-wajah penuh debu,pasar itu roboh gumamku takkala melewati daerah wirobrajan,sepanjang ku melihat dipinggir jalan ibu-ibu yang menggapai-gapaikan tangannya,mencari tumpangan,pikiranku hanya tertuju kekost kakakku.Masya Allah Jogja menangis,jogja berduka,bukan karena Merapi yang telah lama heboh.tapi karena gempa tektonik.

06:15 di jalan wates,
kukirim sms ke bengkulu
ma selamat ulang tahun,barusan jogja gempa,besar ma sprti thn 2000 dl,aku skrg nak ke kost k’aan,kostny rusak,mohon doanya untuk kami disini.
Status: delivered

06:30 daerah Sapen
puing-puing tembok menghalangi perjalananku, terlihat seorang ibu yang duduk lunglai,tak mampu menangis lagi mungkin,dahsyat,ya sesuatu yang akan terus membekas,menghujam di dalam ingatannya kelak.
Tatapan kosong itu yang kutangkap takkala ia memperhatikan rumahnya yang hancur,rata,hanya genting itu yang tergenggam ditangan kanannya,
Di kost kakakku,kulihat mereka berkumpul,ada yang sholat,ntah itu sholat subuh,atau duha,tak kuhiraukan,kulihat muka-muka itu,letih,was-was,takut.

Ku hanya bisa melihat sekeliling dengan hati yang menangis,tak bisa aku
Belum ada berita pasti seberapa besar kekuatan gempa itu,spekulasi bermunculan,hantu tsunami mulai merasuki sekeliling.ku hanya bisa berkata dalam hati sedikit berdoa.semoga tidak terjadi tsunami,cukup yakin ku berucap,jogja jauh dari pantai selatan,kontur tanah di sana juga sudah cukup membendung air bila tsunami itu benar-benar ada.

07:50
dua orang pemuda berlari sambil berteriak air,air,air
dalam waktu singkat kepanikan muncul,seluruh Sapen berhamburan,klakson motor,mobil berteriak tak mau kalah,cepat-cepat sekali berita itu tersiar,trauma Aceh manghantui.
Seluruh penghuni kost kakakku berhamburan keluar.tapi tidak denganku,sayup-sayup kudengar suara yang memanggilku,Adi….adi…..adi…cepat dek kakakku tak kalah panik.kuraih HP ku yang tergeletak dikamar yang berantakan itu.
Aku tidak mau lari,mau lari kemana???
Mau menghindar dari tsunami yang muncul dari selatan,tapi Wedhus Gembelnya gunung Merapi juga siap menyerang.
Terlihat disana sini para penduduk diliputi kepanikan yang sangat.
Berlarian,penuh tangis,teriakan pilu,menambah riuh suasana yang sepertinya pernah kulihat di TV ketika tsunami melanda Aceh.
Jerit tangis,kecemasan yang tak asing seperti 6 tahun yang lalu.

Selama itu tak henti-hentinya HP ku berbunyi,sms mengalir,alhmd teman-temanku sehat smua.

08:56 message received from: Bli Rindu
rul,dmana? Qta mau krmh tanteq di airport!Km ksana aja! Qta ktemuan dsana!

ak masih dsapen, ak liat2 keadaan dl ndu,y udh kmu ksana aj,nanti ak ksana,sampe ktmu dtmpt tantemu y.
message sent 09:00
……………………………………………………………..
………………………………………………………………………….
Jogja Never Ending Asia,27 mei 2006 kan kukenang kau,dengan sejuta guratan lelahmu yang kan kusimpan dan kan kuceritakan nanti,seperti peristiwa enam tahun lalu.

Jogja Never Ending Asia,27 mei 2006,05:53.5,9SR.
Berhentilah berduka,dukamu,dukaku,duka kami.

Jogja Never Ending Asia, 27 mei 2006 pagi itu.
Gempa,Merapi,keeksotikanmu,keanggunanmu,
Pilu mereka,tangis mereka,jerit mereka,tangis mereka.
Satu tanpa harmoni,
Tapi tetap menghiasi harmoni kehidupan ini.

azab sudah pasti musibah,tapi musibah belum tentu azab
ini adalah musibah,bukanlah azab dari Allah
tatap lah hari esok Jogja.

SMAnLie, Apa Kabar diKau

Photobucket - Video and Image Hosting

di sinilah semua itu berawal, era putih abu-abu itu telah usai,tetap tersenyumlah untuk kami!

Photobucket - Video and Image Hosting
MATRIX 04

berdiri ki-ka : olon,uloy,odon,theo,gultom,grace,dayu,frischa,muthia,hanna,ayya,fian,dedi”badak
tengah ki-ka : Endra,egi,yuli,evi,ainun,deby,ipon,Gery,N’cept,Me’i,albert
jongkok ki-ka : yoga,rita,risma,ayi,ramc,nurul
bawah ki-ka : wie-win,willy mangun,martha,fagan,noval,riki,irul,inuk,eko

Photobucket - Video and Image Hosting
Kapan Moment kayak gini terulang,denger-denger mo reunian taon 2010

semoga bener deh,ga kebayang 4 taon lagi

so liat aja

welcome to New York Yakarta

Never ending Asia jargon untuk kota budaya yang satu ini,sudah cukup untuk menjadi magnet bagi para pelancong untuk mengunjunginya.tak cukup sampai disitu,lebih dari ribuan siswa ex SMA (anak putih abu-abu) mencoba mengadu nasib di kota pelajar.dari seluruh pelosok negeri ini tak terkecuali dari Bengkulu,
dua tahun sudah era putih abu-abu itu tlah berlalu,dimano kamu orang tu cik? la warno-warni nian apo dunia kmu orang tu? ado dak yang pacak kito banggakan dari Bengkulu tu,orang tau letak prop. kito tu la mujur apolagi sampai nak tau banyak tentang daerah tu.
ai cukup la buruk-buruk’i kota nang tecinto tu,nak di cakmanoi Bengkulu tetaplah cak itu,klo kito dewek yang nak merubahnyo,baru nyo pacak berubah.tapi itulah dak pacak langsung sim salabim,segalo tu butuh proses.
Met belajar ajo kawan, Jogja tu la tekenal buek orang-orang yang idealis walau kadang keadaan pacak buek orang jadi realis jugo.
met belajar ajo kawan, masa depan kamu orang ado kek kamu tulah.yang megang stir kamu orang tulah,
met belajar ajo kawan, jangan kecewakan waktu yang tlah kau habiskan di negeri seberang ini,masa lalu itu harus dihormati cak kito yang sedang menghargai masa depan.
met belajar ajo kawan,bengkulu menunggu mu,sekali kali busungkan rasa primordialisme itu,kapan lagi kito nak nancapi kuku kito di tanah kito dewek,jangan pacak orang luar ajo yang nikmati.
met belajar ajo kawan,kito tau dimano kelak kito duduk di masa depan,serapi kito duduk waktu Ujian Nasional di Sma dulu mungkin.
met belajar kawan,waktu,pengalaman tu suatu hal yang mustahil untuk diulangi,paling de javu,tapi dakdo yang biso samo persis.
met belajar kawan…
sekarang di New York yakarta,ntah dak tau 5 taun lagi
met belajar ajo yo.

POPULAR CULTURE

Budaya Konsumerisme di Kalangan Kita

Dewasa ini budaya konsumtif seakan-akan telah menjadi satu identitas baru yang masuk dalam setiap lapisan struktur social masyarakat. Kebosanan atas budaya tradisional yang ridak dapat menyajikan gaya-gaya baru, miskinnya budaya tradisional akan inovasi baru, dan mungkin tingkat konvensionalitas budaya tradisional dalam fokus budaya bangsa kita menyebabkan menjangkitnya Budaya Popular.yang lahir seolah-olah untuk meneriakkan protes akan kekangan yang melingkupi budaya bangsa selama sekian abad. Ia lahir sebagai a new fresh style yang siap membuat babak baru dalam mozaik budaya bangsa.
Sikap konsumtif dalam hal ini lebih kepada perebutan citra-citraan, bagaimana sesuatu yang dicitrakan dapat mewakili posisi dan eksistensi kedirian kita dalam panggung ilusi tersebut. Tetapi semuanya kosong dan hampa akan makna yang sebenarnya, karena yang ada hanyalah ritualisme dan kesenangan belaka. Apakah itu berguna atau bermanfaat tidak lagi menjadi kalkulasi kehidupan kemanusiaanya. Hidup hanya sekedar objek arus massa dan tontonan semata. Karena kedirian mereka ada jika berada dalam gelombang arus tersebut, artinya saya ada jika saya memiliki HP yang bermerek terbaru. Dan saya ada jika saya duduk di ruang KFC atau Mc Donald,dan “ saya ada jika saya berpakaian seperti apa yang diiklankan oleh media massa”.(plesetan metode filsafat Descartes. Dan bukan saya ada karena saya berfikir, seperti metode filsfat yang pernah dicetuskan oleh Descartes.
Pergeseran itulah yang terjadi dalam struktur nilai budaya yang kita anut selama ini. Yang ada bukan lagi produksi tetapi konsumsi, yang ada bukan lagi mencita tapi mengadopsi, yang ada bukan lagi realita tapi ilusi,yang ada bukan lagi fakta tapi kepalsuan dan seterusnya..
Kemajuan aspek informasi dan teknologi secara perlahan berperan dalam menentukan dan mempercepat jalannya budaya konsumtif dalam masyarakat kita. Logika yang bermain dalam media adalah menginformasikan yang belum diketahui dan yang belum ada di lingkungan kita. Dari sini kita tidak lagi mengenal batas-batas territorial dan geografis yang ada. Aktivitas yang dilakukan oleh Negara-negara timur secara langsung dapat diketahui oleh Negara-negara barat.
Begitu juga halnya terhadap produksi-produksi komoditi,standar mode,gaya hidup dapat seketika diketahui media tersebut. Dan bahkan ukuran mode dan nilai bagus/baik itu adalah yang diiklankan dan ditampilkan oleh media. Pria tampan bukan lagi yang berkulit putih tetapi yang memegang HP,bermotor gede,atau mempunyai mobil dengan memakai parfum yang diiklankan oleh media. Dan wanita cantik bukan lagi mereka yang berpakaian kebaya, tetapi adalah mereka yang dapat mengikuti gaya telanjangnya para aktris-aktris dan gaya penampilan pemain iklan sabun,shampoo,dan sebagainya.
Dalam wujud nyata budaya konsumen menyingkirkan dan mengingkari tradisi-tradisi tabu yang selama ini dijalankan oleh masyarakat. Budaya konsumen memandang salah satunya dalam fashion, bahwa saat ini, tidak ada lagi fashion, yang ada hanyalah passion, tidak ada aturan, yang ada hanya pilihan. Setiap orang dapat menjadi siapa saja. Artinya Fashion lama dalam masyarakat dan agama telah dilanggar, sehingga terjadi perang dalam uniforitas, kejenuhan akan perbedaan yang mengakibatkan hilangnya arti..
Konsumerisme telah menjadi ikon massa. Seolah yang satu ini memang tengah menemukan jiwa raganya pada abad ini. Berkembangnya adagium tampil trendy,cantik dan modis ternyata telah mampu membunuh rasionalisasi ekonomi masyarakat kita. Ibu-ibu muda di kota sibuk senam aerobic, fitness, yoga yang kesemuanya berorientasi ke tubuh. Pelajar dan mahasiswa tersedot dengan butik-butik(distro), buku-buku yang seharusnya dijajar di rak bergeser menjadi tumpukan pakaian mini, baju you can seecelana modis,ikat pinggang ala militer dalam lemari. Lantas kepada siapakah tonggak kritisisme ekonomi ini diserahkan jika jumlah intelektual muda hanya sedikit, sedang jumlah yang nge-pop(banyak) seolah sekolah atau kuliah hanya rutinitas untuk mencari kenalandan ajang fashion show bukan menimba ilmu.
Terus apa, siapa dan seperti apa identitas budaya bangsa kita?. Pada permukaan kita bangga hal ini sebuah indikator kemajuan dan modernitas. Tetapi sesungguhnya kita lebih menyukai yang primitif dan pra sejarah. Sebab di masa pra sejarah semua serba bebas,dimana manusia belum tersdukasi secara baik. Lantas mengapa harus membenci tradisionalitas? Tradisional saja belum, kita masih di wacana pra-sejarah dan mengapa selalu mengagung agungkan modernitas.
Kita sadar dan harus realistis atas realitas, kita semua tidak akan mungkin menghindar dari semua ini (neokolonialisasi) yang sudah menjadi penyakit akut, bagikan virus-virus merusak sendi-sendi kebudayaan bangsa. Dari sinilah perlu yang namanya sikap kritis dalam menjalani realitas kehidupan ini. Karena tidak semuanya bersifat netral dan bebas nilai, dalam konteks kebudayaan pun syarat akan kepentingan-kepentingan klas tertentu, yang tentunya kepentingan penguasa. Kearifan dan kebijaksanaan di dalam pluralitas budaya merupakan satu keharusan individu. Agar masing-masing kita sadar apa yang dilakukan dan sadar akibat yang didatngkan.

MERAH PUTIH itu BERKIBAR di SIRKUIT SENTUL

Selamat untuk Organizing Comitte-nya A1 Grand Prix di Sentul, yang telah berhasil menyuguhkan tontonan balap mobil dunia yang sungguh-sungguh menarik ketika ditonton. di layar kaca saja sudah begitu menegangkan apalagi jika saya berada di hiruk-pikuknya para penonton yang berdesak-desakan di tribun.ya, suguhan spektakuler layaknya Balap mobil F-1 berhasil diadakan di Indonesia, di tengah-tengah keraguan atas kesiapan sentul untuk menjadi tuan rumah seri A-1, karena semenjak menjadi tuan rumah untuk balap motor GP 500 cc yang kini berubah menjadi moto Gp, praktis Sentul tidak pernah lagi menyelenggarakan perhelatan lomba balap Internasional bertaraf Dunia, tertinggal jauh memang jika kita bandingkan dengan negara tetangga kita Malaysia yang boleh berbangga dengan Sirkuit Sepang.
Indonesia telah berhasil menjadi tuan rumah yang baik,itu akan menjadi catatan penting, kerana perheltan A-1 akan terus diadakan di Sentul hingga 2008, bahkan Presiden Susilo Bambang Yudoyono pun rela mengendarai motor untuk sampai ke Sentul karena mobil negara terjebak kemacetan menuju Sentul. sesuatu yang patut diberikan apresiasi membuktikan pada Dunia bahwa Indonesia aman untuk dijadikan ajang perhelatan Internasional, bahkan menurut chief eksekutif A-1 balapan di Sentul adalah penyelenggaraan balapan terbaik setelah Durban,Afsel,dengan tipe sirkuit yang cepat sehingga menyuguhkan atraksi-atraksi balapan yang sangat dinanti-nanti oleh penggemar motos sport di seluruh dunia.
Merah Putih pun berkibar dimana-mana, walaupun di dua race Ananda Mikola tak dapat berbuat banyak untuk menghasilkan poin bagi Indonesia,tapi tetap saja Indonesia akan terus berkibar dengan tegak, sabar Ananda masih ada Sentul2007. Untuk saat ini kita hanya perlu pengakuan dari dunia bahwa Indonesia dapat menjadi tuan rumah race yang sukses,2007 kibarkanlah Merah Putih itu di tribun Sentul. Bravo Merah Putih.

Jyllands-Posten,SEBUAH BALADA DUNIA YANG MENGHEBOHKAN

Tetapi tak dapat dibantah bahwa telah menyinggung perasaan umat Islam dan karena itu kami meminta maaf,”

Itulah sepenggal kata dari salah satu pimpinan redaksi Jyllands-Posten, Carsten Juste. suatu kalimat yang pendek dan ringan yang terlepas begitu saja menganggap bahwa pemuatan ke-12 gambar kartun itu biasa-biasa saja dan tidak dimaksudkan untuk menyinggung perasaan siapa pun.Adalah salah besar jika mereka mengganggap bahwa pemuatan kartun itu hanya bentuk ekspresi sebuah kebebasan pers di negara itu.

Dalam hal ini seharusnya Pemerintah Denmark harus meminta maaf dan mengklarifikasi atas pemuatan gambar kartu tersebut. tapi lewat Menteri Luar Negeri nya , Per Stig Moeller memberikan pernyataan bahwa “Kami tak akan meminta maaf. Namun sangat penting bagi kami untuk menekankan bahwa kami adalah sebuah masyarakat yang mendukung adanya toleransi dan saling menghormati,” pernyataan yang kembali menyulut amarah , sehingga demonstrasi anti Denmark pun terus meluas.

Kurt Westergaard, seorang Non Muslim Denmark lah yang berhasil memenangkan sayembara pembuatan ilustrasi gambar Nabi Muhammad SAW yang diadakan oleh Harian Jyllands-Posten itu.dari ke-12 gambar kartun tersebut, salah satunya terlihat seorang yang menggunakan surban berbentuk bom. Di bawah gambar ilusi hasil perlombaan masyarakat non-Muslim Denmark, itu tertulis: ‘‘Prophet Mohammad Cartoons” (kartun Nabi Muhammad). Tepat di sampingnya, ada sebuah gambar seorang laki-laki duduk di belakang meja. Tangannya memegang sebuah poster bertuliskan: ‘‘This Is Freedom of Expressions” (ini adalah kebebasan berekspresi). kebebasan ekspresi yang kebablasan, Dunia pun kaget amat sangat seluruh umat Islam diseluruh jagat ini marah besar, semua turun kejalan meneriakkan protes atas pelecehan terhadap Islam, sesuatu yang sangat fundamental terhadap kepercayaan dari hampir 2,5 milyar penduduk di dunia ini. Islam sangat mengutuk keras bentuk upaya apapun dalam memvisualisasikan seorang Nabi.

Sebanyak seratus orang anggota Taliban malah menyatakan siap untuk melakukan serangan bunuh diri menyusul pemuatan kartun Nabi Muhammad SAW di sejumlah media massa Barat. Demikian diungkapkan oleh salah seorang pemimpin Taliban, Mullah Dadullah, pihaknya juga menyediakan hadiah bagi siapa saja yang berhasil membunuh orang-orang yang bertanggung jawab atas pembuatan dan pemuatan kartun tersebut. ”Kami akan memberikan hadiah emas seberat 100 kg kepada mereka yang berhasil membunuh pembuat kartun itu,” katanya. Sedangkan hadiah 5 kg emas diberikan kepada siapa saja yang mampu membunuh personel pasukan Denmark, Jerman, maupun Norwegia. Dadullah menyatakan, media-media di ketiga negara tersebut telah memuat kartun yang melecehkan Nabi Muhammad SAW dan memicu amarah umat Islam di seluruh dunia.

rakyat Iran pun tak kalah dalam melancarkan protesnya, mereka pun mengadakan sayembara pemuatan kartun Holocaust, sebuah tragedi Genocide (upaya untuk pengahapusan ras tertentu) yang dilakukan oleh Adolf Hitler dengan Nazi-nya yang berhasil membantai 6 juta kaum yahudi di Jerman.sayembara itu hanya ingin memberi tahukan kepada media barat sebatas mana kebebasan pers itu bisa berekspresi jika menyinggung ke masalah yang fundamen.kontan atas sayembara itu kaum yahudi dalam hal ini pemerintah Amerika Serikat melakukan protes terhadap Iran, mereka menyebutkan bahwa Pembantaian 6 juta etnis yahudi itu bukanlah sebuah lelucon yang dapat di kartunkan. sebuah kecaman yang menimbulkan ironi, Amerika tidak tahu bagaiamana sakitnya perasaan umat Islam sedunia atas pemuatan kartun dari seorang Nabi yang sangat dijunjung dan sangat di agung-agungkan itu.mereka tidak tahu bahwa jika area tersebut di usik sedikit saja, maka tunggulah seluruh umat Islam akan bersatu untuk memberangus siapa saja yang telah menghina agama mereka.

Balada itu terus berlanjut,gelombang kecaman, protes, demonstrasi yang meneriakkan anti Denmark terus mengalir, tidak terkecuali di Indonesia, tapi ada satu hal yang lucu disaat umat islam sedang marah-marahnya atas pemuatan kartun oleh tabloid Denmark, Tabloid mingguan Gloria terbitan Jawa Pos Media Group, mengekor koran Denmark, Jyllands-Posten. Media yang populer di kalangan umat Nasrani dan berkantor di Jalan Karah Agung, Surabaya, Jawa Timur, itu memuat kartun penghinaan kepada Nabi Muhammad SAW, di tengah gelombang protes Umat Islam Indonesia dan dunia.”Tabloid Gloria ibarat menyiramkan bensin dalam kobaran api”. begitu pula dengan tabloid PETA yang bermarkas di Bekasi, walaupun dari pihak redaksi telah meminta maaf atas pemuatan kartun tersebut dan sebagian besar tabloid yang telah beredar itu ditarik kembali, tetapi itu tidak cukup hanya dengan permohonan maaf,proses hukum harus dilakukan atas pemuatan kembali gambar kartun yang isinya menyatakan permusuhan dan kebencian itu.

seharusnya kita harus pintar dalam menyikapi hal ini, pemuatan ke-12 gambar kartun itu memang telah menyinggung perasaan kita sebagai seorang muslim, kita pasti paham atas sikap saudara-saudara kita yang melakukan aksi pengrusakan atas bangunan-bangunan kedubes Denmark di Syiria,Afganistan,Iran dan di negara-negara Islam lainnya, sebagai bentuk sensitivitas perasaan mereka atas pemuatan kartun tersebut. aksi demo adalah media yang paling efektif dalam menyampaikan aspirasi tetapi perlu dingat agar aksi demo itu harus mengedepankan akhlak islami, yaitu cara damai tanpa mengurangi sikap tegas kita sebagai Muslim. Ini untuk menghindari pihak ketiga yang menunggangi aksi tersebut sehingga merugikan citra Islam. sebuah dialog haruslah terjadi antara negara-negara Muslim yang tergabung dalam Organisasi Konferensi Islam (OKI) untuk menjelaskan larangan terhadap visualisasi Nabi Muhammad SAW dalam bentuk apapun kepada negara-negara Barat, agar nantinya tidak akan terulang lagi walau dengan dalih kebebasan Pers sekalipun. Semoga mereka-mereka yang berada dalam lingkaran pemuatan kartun tersebut memperoleh balasan yang lebih dari setimpal di hari akhir nanti.Amin.

MENJADI GENERASI KERDIL!

Kekerasan terhadap anak-anak bisa dilakukan oleh siapa saja. Dari orang lain, tetangga, hingga negara. salah satu bentuk kekerasan terhadap anak yang tak kalah memedihkannya: kekerasan yang dilakukan orang tuanya sendiri. Kekerasan yang dilakukan orang tua bisa mengambil bentuk yang beragam, dari kekerasan fisik, psikologis hingga ekonomi.Atas dasar itulah saya hendak membangkitkan kembali nama Kahlil Gibran. Sebab Gibran punya sebuah kado berupa sepucuk sajak bagi orang tua mana pun yang masih kukuh meyakini bahwa anak-anak adalah milik mereka. Begini bunyi kutipan Gibran itu:“Anakmu bukan milikmu. Mereka putera-puteri Sang Hidup yang rindu pada diri sendiri. Lewat engkau mereka lahir, namun tidak dari engkau. Mereka ada padamu, namun bukan hakmu. Berikan mereka kasih sayangmu, tapi jangan sodorkan bentuk pikiranmu, Sebab pada mereka ada alam pikiran tersendiri. …Kau boleh berusaha menyerupai mereka, Namun jangan membuat mereka menyerupaimu. Kaulah busur, dan anak-anakmulah anak panah yang meluncur.”Jika direnungkan baik-baik, puisi Gibran dari buku masyhurnya, The Prophet, pastilah akan menampar telak tiap orang tua mana pun yang masih bersikukuh mengklaim dirinya punya hak sepenuhnya atas nasib dan masa depan anak-anak mereka. Dengan klaim itulah banyak orang tua, yang sadar atau tidak, telah melakukan kekerasan yang jauh lebih sistematis dan berefek panjang terhadap masa depan anak-anaknya.Atas nama masa depan anak-anak mereka, banyak orang tua yang dengan sengaja menentukan program yang harus ditempuh oleh anak-anaknya. Program-program itu beragam, dari mulai harus sekolah di mana hingga jenis les apa yang mesti diambil. Orang tua model inilah yang hakkul yaqin anak-anak mereka akan sukses di kemudian hari jika konsisten menempuh program hidup yang mereka rencanakan sebelumnya. Dengan berderet dakwaan di atas, saya tentu saja tidak sedang melucuti kewajiban orang tua untuk mendidik anak-anaknya dengan sebaik mungkin. Sama sekali tidak demikian.di tengah proses pendidikan orang tua terhadap anak-anaknya, kerap kali terjadi, dan karena itulah disebut kekerasan, orang tua sama sekali (atau jarang) tidak pernah mengajak bicara anak-anak mereka, atau setidaknya mengamati secara detail dan tulus apa sebetulnya yang menjadi minat anak-anaknya. Semuanya hanya ditentukan oleh naluri atau sering terjadi berdasar pengalaman pribadi para orang tua di masa silam, tanpa mau ambil pusing memikirkan bahwa zaman telah berganti, dan karenanya tantangan serta kerikil yang menghadang pun sudah tak lagi persis dengan yang mereka alami dulu.Ada pula jenis orang tua yang mendidik anaknya dengan cara memberikan fasilitas hidup yang selengkap-lengkapnya (bahkan berlebihan) sementara para orang tuanya sendiri asyik dengan karirnya sendiri. Orang tua inilah yang secara serampangan menafsirkan arti perhatian dan kasih sayang melulu dengan ukuran uang dan material. Orang tua seperti inilah yang telah menciptakan keluarga tak ubahnya sebagai “sangkar emas”.Keluarga menjadi “sangkar emas” ketika anak beroleh semua fasilitas yang material dan fisikal tapi tanpa diselimuti kehangatan, keakraban dan ketulusan. Saat keluarga menjadi “sangkar emas”, anak-anak hanya kenal haknya. Ia tak akan paham bahwa dirinya juga punya kewajiban yang mutlak dilaksanakan. Anak-anak juga tak pernah mengerti bahwa di dunia ini tak ada yang gratis, bahwa semua itu harus diperjuangan dengan keringat dan kerja keras.Jika mode pendidikan seperti ini yang dilakukan oleh orang tua terhadap anaknya, maka model pendidikan inilah yang oleh Paulo Freire sebut sebagai “paedagogi hitam”. Jenis paedagogi inilah yang kelak akan memangkas kemerdekaan anak-anak dan yang akan menjadikan mereka tak ubahnya sebagai robot yang bisa dikendalikan oleh sebentuk remote control bernama: orang tua!Keluarga seperti itulah yang akan melahirkan sebentuk barisan yang oleh Schiller, pujangga Jerman abad 18, disebut sebagai “generasi kerdil”: generasi yang tak bisa mengambil sikap secara mandiri, merdeka, dan melulu bertumpu pada uluran tangan orang lain. Tak ada yang bisa diharapkan dari generasi dengan karakter rapuh macam itu.Jangan harapkan generasi model ini dapat melakukan sebuah transformasi sosial. Bagi “generasi kerdil” macam itu, dunia yang penuh sengkarut bukanlah masalah yang patut dipikirkan bersama pemecahannya. Generasi seperti inilah yang selalu berfikir.

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.